Bangkitnya
manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta dan manusia,
serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudah kehidupan
di dunia. Pemikiran mausia akan bangkit ketika ada perubahan mendasar dan
menyeluruh. Contohnya: seorang akhwat yang memakai jilbab syar’i. Si akhwat
sudah memiliki pemahaman yang baik mengenai kewajiban berjilbab syar’i , karena
itu merupakan aturan yang datang dari Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 59.
Pemikirannya sudah bangkit , sehingga dia tidak ragu dan malu ketika memakai
pakaian yang sudah disyariahkan Allah SWT. Nah pemikiran inilah yang membentuk
dan memperkuat mafahim (persepsi)
terhadap segala sesuatu. Karena manusia akan selalu mengatur tingkah lakunya dalam
kehidupan sesuai dengan mafahim nya. Apabila kita ingin mengubah tingkah laku
manusia yang rendah menjadi luhur, maka harus mengubah mahfum nya terlebih dahulu.
Jalan untuk mengubah mafahim seseorang, dengan cara mewujudkan pemikiran yang baik dan
benar tentang kehidupan, alam semesta dan manusia; tentang Zat yang ada sebelum
dan sesudahnya. Namun pemikiran nya harus terpecahkan sesuai dengan fitrah
manusia, memuaskan akal dan memberikan ketenangan hati. Pemecahan nya dapat
ditempuh dengan pemikiran cemerlang tentang
tiga unsur pokok tadi. Kemudian pemecahan inilah yang akan melahirkan akidah
dan menjadi landasan berpikir setiap manusia .
Islam sudah menuntaskan semua problematika
pemikiran manusia yang sesuai dengan fitrah, memuaskan akal serta memberikan ketengan
hati. Sehingga siapapun yang memeluk agama islam tentu telah memiliki pengakuan
yang betul – betul muncul dari akal. Karena Islam dibangun diatas satu dasar
yaitu akidah. Akidah merupakan akar keimanan bagi sertiap muslim, sebab akidah
menjelaskan tentang tiga unsur pokok tadi serta Zat pencipta (Al-Khaliq) yang menciptakan ketiganya.
Dialah Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi
ada. Allah SWT bersifat wajibul wujud (wajib adanya), Esa/
tunggal, mutlak adanya, tidak terbatas, tidak beranak tidak pula beranak, tidak
bergantung dengan yg lain, tidak ada kematian dan Allah SWT Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Berbeda dengan makhluk , seperti manusia yang memiliki sifat
terbatas, bergantung dengan yg lain, lemah, tidak bisa tumbuh dan berkembang
seumur hidup, ada kematian. Begitu pula dengah kehidupan juga bersifat
terbatas, dan alam semesta pun sama memiliki sifat terbatas membutuhkan yang
lain.
Tuhan adalah sang Pencipta yang Azali
(tidak berawal dan tidak berakhir) yang tidak memiliki keterbatasan seperti
makhluk. Contoh: manusia yang memiliki mata, namun penglihatan mata manusia
terbatas untuk melihat matahari. Jika Tuhan masih memiliki sifat terbatas
bearti itu bukan Tuhan, melainkan termasuk dalam tiga unsur pokok tadi yang sudah pasti diciptakan. Ada tiga kemungkinan yang menentukan
keberadaan Pencipta. Pertama, Tuhan diciptakan yang lain. Bagaimana mungkin
bahwa Tuhan diciptakan, jika benar pasti Tuhan bersifat terbatas dan tentu ada
banyak Tuhan – Tuhan lainnya sebelum Tuhan tersebut diciptakan, jadi
kemungkinan pertama ini bathil. Kedua, Tuhan menciptakan diri-Nya sendiri.
Jelas tidak mungkin juga, karena sangat tidak masuk akal apabila Tuhan
menciptakan diri-Nya bersamaan dengan menciptakan makhluk-Nya. Ketiga, Tuhan
bersifat azali dan wajibul wujud. Kemungkinan yang ketiga
ini bisa diterima oleh akal, karena Tuhan tentu sangat hebat dan berkuasa yang
sudah mutlak adanya, tidak berawal dan tidak pula berakhir. Dialah Allah SWT.
Akal mampu membuktikan dengan melihat
benda –benda (matahari, bulan, bintang, bumi, planet, dll) yang ada di alam semesta, tentu dibaalik
benda – benda itu terdapat pencipa yang menciptakan. Seperti kisah Nabi Ibrahim
yang membuktikan adanya Tuhan dengan melihat benda- benda di alam semesta.
Sudah jelas bukti nyata akan adanya Tuhan dengan mengamati alam semesta,
memperhatikan fenomena hidup dan diri manusia itu sendiri.
Alquran menjadi petunjuk bagi manusia ,
yang mengajak manusia untuk mengamati segala sesuatu yg dapat membuktikan
adanya Allah SWT yang Maha Pecipta dan Maha Pengatur. sebagaimana yang sudah
dijelaskan dalam QS. Ali-Imran: 190, QS. Ar-Rum: 22, QS. Al-Baqarah:164. Allah
telah menganugerahkan manusia akal untuk berpikir dan Allah sudah memberikan
sesuatu yang pas yang sesuai dengan fungsi dan kemampuannya. Contoh: hewan unta
yang diciptakan di padang pasir , pinguin yang diciptakan di kutub es. Dan
masih banyak ayat lainnya yang mengajak menusia untuk memperhatikan alam
semesta dengan seksama. Apabila ajakan itu dijadikan sebagai petunjuk akan
adanya pencipta, sehingga keimanan akan menjadi lebih mantap.
Keimanan itu adalah fitrah bagi setiap manusia yang muncul dari perasaan. Namun
keimanan harus dikaitkan dengan akal, agar perasaan tidak akan menambah-nambah apa
yang seharusnya diimani. Maksud dari menambah-nambah ialah melakukan
penyembahan terhadap berhala, dewa-dewa dan lainnya. Tanpa sadar, cara tersebut menjerumus pada kekufuran dan kesesatan. Islam tidak
membiarkan perasaan hati sebagai satu-satunya jalan menuju iman. Jadi keimanan
itu tidak boleh dituju hanya dengan perasaan, melainkan harus dengan akal juga.
Kita tidak boleh mengkhayalkan jelmaan Allah SWT dalam bentuk apapun, karena
itu akan menjurus ke arah kekufuran, ke syirikan, dan imanjinasi keliru yang
senantiasa ditolak oleh iman yg lurus. Keimanan munul dari proses berfikir
dengan meneliti dan memperhatikan alam semesta.
Kendati wajib atas manusia menggunakan
akalnya dalam mencapai keimanan kepada Allah SWT, karena akal mampu menunjukkan
sesuatu yang benar dan bathil. Tetapi akal juga masih terbatas untuk menelaah
Zat Allah SWT dan apa-apa yg ada diluar tiga unsur pokok (alam semesta,
manusia, kehidupan).pada hakekatnya iman itu adalah percaya terhadap wujud Allah
SWT. Sedangkan wujud-Nya dapat diketahui melalui makhluk- makhluk Nya yg tiga
unsur pokok tadi. Manusia hanya bisa melihat tiga unsur pokok itu saja,
sedangkan Allah SWT diluar dari tiga unsur pokok tadi. Akal tidak akan mungkin
memahami hakekat yg ada diluar batas kemampuannya. Seharusnya dengan
keterbatasan inilah justru menjadi faktor penguat iman.
Apabila iman kita kepada Allah SWT telah
dicapai melalui proses berfikir, maka kesadaran kita terhadap adanya Allah akan
menjadi sempurna. Jika kita telah memiliki kesadaran sempurna , tentu kita akan
meninggalkan suatu kemaksiatan yang membuat kita berdosa, karena dimanapun kita
berada, apapun yang kita lakukan, Allah SWT pasti selalu melihat gerak-gerik kita.
Seperti halnya kematian; orang akan
berfikir bahwa kematian itu pasti akan datang hanya tinggal menunggu giliran
saja. Nah kesadaran inilah yang membuat orang tersebut untuk mempersiapkan
dirinya sebelum dijemput oleh kematian. Kesadaran ini juga adalah bentuk
keyakinan terhadap Allah SWT.
Manusia memiliki fitrah yg senantiasa
mensucikan penciptanya, aktivitas mensucikan ini disebut dengan ibadah (tali
penghubung manusia dengan pencipta). Untuk melakukan ibadah haruslah memakai aturan
yg benar dan aturan itu harus datang langsung dari sang pencipta.Namun karena
akal manusia terbatas dalam memahami hakekat Al-Khaliq (pencipta), maka Allah SWT mengutus Rasul untuk bisa
langsung berkomunikasi antar makhluk Allah.
Allah telah memberikan naluri yang baik
kepada setiap manusia, tetapi jika naluri dibiarkan tanpa aturan tentu akan
kacau, haruslah ada aturan yg mengatur setiap naluri dan kebutuhan jasmani
manusia. Namun, aturan tersebut tidaklah boleh datang dari manusia, melainkan
harus datang dari sang Pencipta. Karena apabila manusia membuat aturan sendiri
tentu aturan tersebut tidaklah sesuai dengan kadar kemampuan pada diri manusia
masing-masing, akan ada perbedaan, perselisihan, pertentangan, sebab manusia
membuat aturan demi kepentingan dirinya sendiri. Maka aturan tersebut harus datang
dari Allah SWT melalui para Rasul.
Alquran adalah bukti mukjizat yang dibawa
Rasulullah melaui perantara malaikat jibril untuk menyampaikan syariah-syariah Allah
SWT. Dalam menentukan darimana asal Alquran, akan kita dapatkan tiga
kemungkinan. Pertama, Alquran adalah
kitab yg dikarang oleh orang Arab. Kemungkinan pertama ini ditolak, sebab
Alquran sendiri telah menantang mereka untuk mebuat karya yg serupa. Sebagaimana
sudah dijelaskan dalam QS. Hud: 13. Namun, mereka mencoba mendatangkan penyair
hebat unutk memuat ayat Alquran. Kemudian penyair tersebut ditantang untuk membuat
satu surah seperti surah Al-Fil. Mereka tidak tau bahwa setiap satu surah yang
turun pasti ada asbabun nuzulnya, seperti surah Al-Fil yg menceritakan tentang
pasukan gajah dan burung ababil. Kemungkinan pertama tertolak, karena setiap satu
surah/satu ayat yg turun itu adalah kabar dari Allah tentang masa lalu maupun
masa yg akan datang. Kedua, Alquran adalah karangan Muhammad SAW. Kemungkinan kedua
ini juga tertolak, bagaimana mungkin Rasulullah yg membuatnya sedangkan turun
ayat pertama saja Rasulullah masih Ummi dan
Rasulullah juga keturunan bangsa Arab juga yg tidak mampu menghasilkan karya yg
serupa. Jelas bahwa Alquran bukanlah karangan Rasulullah.
Terlebih lagi dengan adanya banyak hadist-hadist
shahih yg diriwayatkan lewat cara tawatur
(yg langsung dari lisan, ketika Rasulullah bersabda dan Allah berfirman) sudah
sangat jelas bahwa itu gaya bahasa yg berbeda, ketika berbicara bahasa arab dan
melantunkan ayat Alquran. Dan Rasulullah juga dituduh membuat-buat Alquran yg
disadur dari seorang pemuda nasrani bernama Jabr, padahal Jabr sendiri tidak
berbahasa Arab. Sebagaimana sudah dijelaskan dalam QS. An-Nahl: 103. Ketiga,
Alquran berasal dari Allah SWT. Kemungkinan ketiga ini benar, sudah terbukti
bahwa Alquran bukanlah berasal dari dua kemungkinan tadi. Bearti jelas Alquran
itu perkataan Allah (kalamullah) yang
menjadi mukjizat Rasulullah melalui perantara malaikat jibril.
Inilah dalil
naqli tentang iman kepada Allah SWT, kerasulan Nabi Muhammad SAW dan
Alquran yg merupakan Kalamullah.
Jadi, iman kepada Allah itu dapat dicapai
melaui akal. Jika iman tdk dicapai melalui akal maka keimanan kita akan mudah
goyah. Terhadap perkara ghoib juga sudah dibuktikan dengan akal dan wajib bagi kita
mengimani apa saja yg dikabarkan oleh Allah. Seperti perkara ghoib; syaiton,
jin, malaikat serta siksa kubur, padang mahsyar, hisab, surga dan neraka. Semua
perkara ghoib itu seharusnya menjadi peringatan untuk kita agar berhati –hati dalam
kehidupan yg fana agar tidak masuk kedalam neraka. Dengan adanya perkara ghoib
tersebut akan nemambah keyakinan kita dalam keimanan.
Akidah seorang muslim itu harus bersandar
pada akal atau pada sesuatu yg sudah terbukti dasar kebenarannya oleh akal. Seorang
muslim wajib meyakini segala sesuatu yg telah terbukti dengan akal atau yg
datang dari sumber berita yg pasti yaitu Alquran dan hadist. Akidah tidak boleh
diambil kecuali dengan jalan yg qathi’i.
Ketika kita sudah paham dengan alam
semesta, manusia dan kehidupan serta apa-apa yg ada dibalik ketiganya, tentu
kita akan tau bagaimana harus bersikap dan kita sudah meyakini adanya hari
penghisaban yg datang dari Allah. Ketika seseorang yg sudah memiliki alfikru almustanir (pemkiran cemerlang),
tentu hidupnya akan lebih tenang dan terarah, karena konsep berfikirnya selalu
mengacu pada keimanan.
“keimanan bukan hanya dari lisan, tetapi
keimanan harus dibuktikan dengan taat (tunduk pada syariah Allah). Orang yg beriman
apabila datang ayat dia akan pasrah.”
Dikutip
dari buku karangan Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani
Judul
buku “Peraturan Hidup dalam Islam” (Nizham Al-Islam)
Ringkasan
Bab Pertama “Jalan Menuju Iman”
Komentar
Posting Komentar